Label

Tampilkan postingan dengan label Sosial P B8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial P B8. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

MASIH BERSIHKAH NEGERI INI?

Negeri ini kelihatannya semakin menakutkan saja. Pasalnya orang-orang yang selama ini terlihat BERSIH dan idealis ternyata “Mungkin” tidak BERSIH. Mengapa saya menggunakan kata “Mungkin?” hal ini dikarenakan belum ada keputusan pengadilan yang menyatakan orang-orang ini bersalah. Dan sistem hukum selalu menganut azas praduga tak bersalah.
Bagi sebagian besar anda tentunya penasaran dengan paragraf di atas. Merujuk kepada siapakah?
Dengan tegas saya jawab: Angelina Sondakh (anggota DPR Partai Demokrat) dan Marie Elka Pangestu (Menteri Perdagangan).
Dua sosok wanita yang selama ini oleh publik anggap BERSIH dan berkompeten serta idealis, ternyata beberapa hari ini menjadi pemberitaan di berbagai media massa. (Mudah-mudahan hanya berita).
Angelina Sondakh DIDUGA tersangkut korupsi dana pembangunan wisma atlet di Palembang dan Marie Elka Pangestu DIDUGA melakukan nepotisme dan markup dalam pembelian pesawat XIAN MA 60 made in China yang beberapa hari lalu jatuh di Papua. (sekali lagi DIIDUGA).
Era kebebasan media saat ini memang memiliki efek yang sangat besar terhadap pembentukan opini publik. Publik akan terpengaruh oleh arus pemberitaan apalagi jika memang ada konspirasi besar yang bermain dengan tujuan untuk menjatuhkan kredibilitas lawan politik.
Sebagai rakyat. Kita sebaiknya cerdas dalam menilai suatu pemberitaan. Dan harus diingat pula, bahwa dalam kancah persaingan politik hal-hal kecil pun bisa diblowup dan dimanfaatkan lawan politik untuk menjatuhkan siapapun.
Terlepas dari kedua sosok yang disebutkan di atas terlibat atau tidak, biarlah hukum yang memutuskan. Dan saya berharap kedua sosok yang kelihatan BERSIH ini tetap BERSIH dan bisa membuktikan kepada publik bahwa mereka memang BERSIH, agar kami sebagai rakyat tidak berpendapat bahwa di negeri ini tidak ada lagi manusia yang BERSIH.

Semoga P B8 dan Sahabat-Sahabat selalu BERSIH.

Jumat, 15 April 2011

PENULIS SENIOR SAMA DENGAN PENULIS YUNIOR

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata Senior dan Yunior. Kata Senior merujuk kepada mereka  yang sudah lama berkecimpung dibidangnya dan kata Yunior adalah kebalikkan  kata Senior yaitu mereka yang baru mulai menggeluti bidang tersebut, dalam tulisan ini saya gunakan kata PEMULA.
Dulu saya selalu menggangap  saya sebagai pemula, padahal saya sudah menghasilkan beberapa karya fiksi dan nonfiksi namun belum dipublikasikan.
Beruntung, kemajuan teknologi (facebook) memungkinkan saya berkomunikasi dengan beberapa penulis, sehingga saya berhasil dekat dengan mereka yang bersedia membagikan ilmu penulisan kepada saya (walaupun lebih banyak yang menghindar).
Dari perkenalan saya dengan teman yang baik ini (bermukim di DIY), saya selalu dimotivasi dan dinasehati bahwa dalam dunia penulisan tidak ada yang senior dan yunior, yang ada hanyalah punya karya atau tidak punya karya.
Akhir-akhir ini saya mulai menyadari kebenaran kata-kata teman saya itu.
Kalau dari segi usia dan lamanya berkecimpung dibidangnya tentu kata senior dan yunior berlaku. Namun jika dari segi hasil karya, belum tentu seorang yang berlabel SENIOR pasti lebih baik dari YUNIOR. Artinya, seorang PEMULA sekalipun sangat mungkin menghasilkan sebuah karya yang baik dan bisa diterima oleh pembaca, dan tidak selamanya hasil karya seorang SENIOR bisa diapresiasi oleh pembaca bahkan kemungkinan gagal pun selalu ada.
Mengapa saya berani mengatakan demikian?
Saya sudah merasakannya. Sejak novel AKU MENCINTAI PRIBUMI diluncurkan hampir tiap hari saya dapat pesan inbox dan SMS yang mengatakan bahwa mereka puas membaca novel saya dan berharap dibuatkan novel ke 2, bahkan ada teman yang mengusulkan difilmkan (walau itu hal yang sangat sulit diwujudkan untuk saat ini).
Saya bukan meremehkan teman-teman yang sudah lama berkecimpung didunia penulisan, segala hormat bagi mereka. Kalau dulu karena keterbatasan media dan informasi tentunya orang yang lebih berumur akan lebih banyak mengetahui apapun, namun saat ini dengan ketersediaan infomasi hampir semua orang bisa mengakses informasi apapun bahkan  semakin tersedianya buku-buku bekas (termasuk saya juga memanfaatkan buku murah) tentu akan semakin mudah bagi siapapun untuk mendapatkan informasi sebagai makanan bagi otaknya untuk melahirkan karya-karya baru.
Dari penjelasan di atas dapat saya simpulkan bahwa PENULIS SENIOR sama dengan PENULIS YUNIOR jadi siapapun dia judulnya adalah tetap PENULIS.
Bagi penulis yang sudah terkenal janganlah merasa HEBAT.
Bagi anda penulis yang belum terkenal, cepat atau lambat anda akan segera terkenal ini hanya masalah waktu, hari ini atau besok "Siapa tahu?".
Maaf, P B8 tidak ingin terkenal secara pribadi, P B8 lebih ingin hasil karyanya yang dikenal.
(Salam Penulis P B8 Penulis Novel Aku Mencintai Pribumi)

Selasa, 12 April 2011

FENOMENA, WABAH ATAU TEROR?

Dua minggu lalu kita dibuat kaget oleh pemberitaan di televisi yang menayangkan jutaan ulat bulu di Probolinggo, media menyebutkan ribuan namun saya menyebutnya jutaan tidak apa-apa karena kami sama-sama tidak menghitung jumlahnya.

Beberapa hari kemudian dikabarkan bahwa  ulat bulu semakin menyebar ke beberapa desa bahkan beberapa kecamatan, terakhir disebutkan ada di Bali dan Lombok.

Hari ini saya nonton di televisi ternyata ulat bulu sudah ada di Cikampek. Saya yang bermukim di Jakarta mungkin harus dengan terpaksa mengucapkan kata “Selamat Datang di Ibukota Ulat Bulu”.

Mengapa ulat-ulat bulu ini bisa semakin banyak? walaupun setiap hari kita lihat di televisi,  Dinas Pertamanan bekerja sama dengan masyarakat setempat sudah melakukan pembasmian baik dengan cairan kimia maupun dengan cara tradisional (dibakar). Hasilnya menurut saya GAGAL.

Kembali ke Judul, Fenomena, Wabah, atau Teror?

Menurut saya keadaan ini memang termasuk Fenomena karena keadaan ini tidak lazim terjadi. Wabah? Ya. Sudah pasti,  Pasalnya akibat kejadian ini masyarakat banyak yang mengalami gatal-gatal. Teror? Mungkin saja bahkan sangat mungkin, perlu kajian lebih jauh.  Pasalnya dalam kehidupan bernegara sudah pasti terjadi persaingan yang ujung-ujungnya bermuara pada ketahanan ekonomi. Mungkin anda menyangka bahwa imajinasi saya terlalu jauh dan nakal membayangkan kejadian ini sebuah teror, atau anda akan mengatakan ini bukan fiksi Bung!

Terserah anda, inilah yang saya bayangkan.

Saya tahu ini bukan fiksi, tetapi ada satu rahasia yang akan saya bocorkan kepada anda, bahwa dalam menulis fiksi banyak hal nyata yang saya masukkan dalam karya fiksi saya (Novel ).

Mari Berimaginasi.

(P B8 Penulis Novel Aku Mencintai Pribumi)

Minggu, 10 April 2011

Wooooiiiiiiiiiiiiiii !!!!!!!!


Saat Anda Di Atas Lihatlah Ke Bawah,
Agar selalu RENDAH HATI.

Saat Anda Di Bawah Lihatlah Ke Atas,
Agar Anda TERMOTIVASI.

Di atas atau Di bawah hanya beda posisi dan tak abadi

NIKMATILAH HIDUP..
BERUSAHALAH TIDAK  MERUGIKAN ORANG LAIN.

(P B8)

Sabtu, 09 April 2011

SINGKIRKAN "LOE LOE GUE GUE"

Kehidupan di kota besar seperti Jakarta memang menyenangkan. Hiburan melimpah ruah dari yang murah sampai yang super mahal, dari yang bermoral sampai yang maksiat semua tersedia dan dengan mudah diakses oleh siapapun.
Mencari uang pun terasa lebih mudah bagi orang yang mau berusaha.  Bermodalkan sebuah gitar saja seseorang tidak akan kelaparan, apalagi bermodalkan dana yang besar,  tentunya akan lebih mudah lagi.
Dari mulut ke mulutlah daya tarik  Jakarta tersebar ke seantero negeri. Setiap tahun pendatang dari berbagai daerah membanjiri Jakarta, walaupun  Pemda DKI dengan segala cara berusaha menangkal pendatang-pendatang dari luar daerah yang  ingin mengadu nasib di Jakarta. Salahsatunya  dengan melakukan operasi yustisi, agar pendatang baru benar-benar mereka yang memiliki pekerjaan dan bukan pengangguran yang akan  berpotensi melakukan kriminal di Jakarta.
Dengan demikian Jakarta menjadi berkumpulnya berbagai macam suku dari seluruh Indonesia yang umumnya tidak saling mengenal. Saya yang berasal dari pedalaman Kalimantan Barat sangat jarang berpapasan dengan teman satu daerah saat mengunjungi pusat perbelanjaan (Mall), Jangankan tidak sengaja bertemu, janjian pun kadang sama-sama tidak sempat. Memang  saya terdaftar dalam sebuah Paguyuban perkumpulan perantau dari daerah kami, namun saya  belum pernah berpartisipasi dalam acara yang mereka adakan.
Dengan demikian, Menurut saya Jakarta menjadi kota Aku dan kota Kau. Istilah kerennya “Loe Loe Gue Gue”.
Efek  dari “Loe Loe Gue Gue” ini sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, contoh sederhannya adalah saat berkendara di jalan raya, sesama pengemudi tidak mau saling mengalah bahkan cenderung berebutan maju walaupun hanya bisa maju 50 cm saja, mereka tidak akan memberikan celah buat kita berbelok walaupun posisi di depannya sedang macet, kadang dengan tidak beretika orang-orang akan melawan arah, parkir sembarangan di depan pintu rumah orang, bahkan ada yang  berebutan parkir, serta membunyikan klakson sekencang-kencangnya saat kendaraan di depannya sedikit terlambat maju. Masih banyak lagi kelakukan orang-orang di kota besar yang terkesan tidak beretika dan saya yang menyaksikannya setiap hari merasa muak, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Mengapa bisa terjadi hal seperti itu?
Banyak faktor yang bisa menyebabkan hal ini terjadi, namun menurut saya adalah faktor “Loe Loe Gue Gue” itu, bagamana tidak? Orang  tidak saling mengenal, sehingga si A tidak akan memperdulikan sikap kurang ajarnya kepada si B “Gue ngak kenal Loe”, berbeda halnya jika di kampung , yang notabene semua orang hampir saling mengenal atau setidaknya saling tahu. Si A akan merasa malu jika berbuat kurang sopan terhadap si B begitulah sebaliknya.
Dengan tulisan ini saya menghimbau kepada semua pembaca, berlakulah santun /sopan kepada siapapun walaupun anda tidak mengenalnya. Pupuklah tata krama kepada anak-anak anda sejak dini, jelaskan  bahwa sikap “Loe Loe Gue Gue” itu tidak baik.
Semoga bermanfaat

(P B8, Penulis Novel Aku Mencintai Pribumi)

Selasa, 05 April 2011

TIPS MENGHINDARI KEJARAN DEBT COLLECTOR


Akhir-akhir ini kata debt collector sedang naik daun akibat pemukulan yang telah menewaskan seorang nasabah bank besar di Jakarta, pelakunya dikabarkan berprofesi sebagai debt collector.

Mungkin kata itu sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Debt collector dapat diterjemahkan sebagai penagih hutang, orang yang pekerjaannya menagih hutang dan cenderung melakukan kekerasan fisik kepada orang yang berhutang (walaupun tidak semua demikian).

Dengan demikian ada yang perpendapat,  agar jangan berhadapan dengan debt collector maka jangan berhutang.
Memang benar  pendapat itu, namun akan menjadi salah kalau anda seorang pengusaha atau wiraswasta.
Benar kalau anda hanya mengandalkan gaji pokok untuk memenuhi  kebutuhan sehari-hari, Hidup tenang.  Dapat gaji bayar listrik, telepon, pam, televisi berbayar, internet, sekolah anak dan untuk konsumsi. Sisanya ditabung.

Jika anda menjalankan usaha sendiri akan menjadi salah pendapat di atas. Tentu sebagai pengusaha anda akan berhitung. Dengan bunga bank berkisar 11% sampai 13% pa (per annum) saat ini  anda akan berani mengambil keputusan  berhutang kepada bank  dengan perkiraan benefit sebesar 30% atau 40% dan sebagai pengusaha anda sudah bisa bayangkan selisih hasil dengan biaya bunga akan menjadi keuntungan anda (asumsi kasar).

Bagaimana jika tidak mampu membayar hutang?

Saya yakin itu bukan keinginan kita saat pertama kali meminjam uang ke bank (kecuali memang sudah direncanakan  sejak awal dibuat kredit  macet).  Jika memang tidak mampu membayar sebaiknya tidak perlu lari  atau kabur atau menghilang karena akan menyebabkan nama anda masuk daftar hitam (Black list) di Bank Indonesia dan anda akan kesulitan berhubungan dengan kredit perbankan (waspadalah). Ingat, hidup masih panjang. Bersikaplah jantan, temuai bank tempat anda berhutang utarakan semua ketidakmampuan anda, saya yakin bank akan menghargai itikat baik anda  dan akan memberikan solusi yang sama-sama menguntungkan entah melelang agunan (jika awal akad kredit anda menggunakan agunan) atau menjadwal ulang hutang anda. Teman saya yang bekerja disebuah bank pernah berkata “Dari pada hutang nasabah diposting hutang tak tertagih, lebih baik dijadwal ulang” jika hal ini anda lakukan, tentu anda tidak akan berhadapan dengan debt collector yang umumnya berpenampilan kasar terhadap orang lain kecuali kepada anak istrinya di rumah.

Berhutanglah jika memang bermanfaat dan produktif.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

(Salam hangat P B8)

Selasa, 29 Maret 2011

PESTA BEDA DENGAN DUKA

Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak terlepas dari interaksi antar manusia yang sering dikenal dengan istilah persahabatan. Dahulu pengertian persahabatan umumnya hanya terbatas pada individu yang saling mengenal, walaupun ada juga sahabat pena (surat menyurat seperti yang saya alami waktu masih SMP dengan orang diluar pulau), seiring dengan perkembangan teknologi saat ini seseorang sangat mudah berteman dengan siapa pun. Yang paling poluler saat ini tentunya jaringan sosial berupa Facebook dan Tweeter, sehingga seseorang bisa memiliki teman sampai akunnya tidak cukup. 
Berapapun jumlah teman anda di jaringan sosial, saya yakin tetap saja teman yang anda kenal secara nyata yang akan selalu menjalin kekerabatan akrab dengan anda, walaupun tidak menutup kemungkinan anda akan akrab dengan teman dunia maya jika satu sama lainnya berniat saling tukar telepon dan menjadi teman akrab, dan saya berharap hal ini terjadi pada saya. Tentunya bukan  teman seperti Selly sipenipu di facebook yang saya harapkan.
Kembali ke mahkluk sosial. Dalam perjalanan hidup tentunya sesekali manusia sesuai dengan tradisi masing-masing pasti mengadakan sebuah acara atau lebih umum disebut pesta, entah pernikahan atau selamatan ini itu yang tentunya kita sebagai teman sering diundang.
Apakah kita wajib datang  jika diundang?
Menurut saya tentu tidak wajib, namun jika tidak ada halangan sebaiknya datang sambil ikut merasakan kebahagiaan kerabat kita.
Apakah sebaiknya memberi karangan bunga, kado, atau uang tunai dan berapa banyak nilainya?
Semua itu tentunya tergantung pendapat masing-masing. Kalau saya biasanya ambil yang simple saja lebih mudah memberi ang pau (amplop merah berisi uang).
Wah P B8 matre juga mengharapkan uang  dari tamu.
He he he. Anda salah. Sampai saat ini saya tipe orang yang tidak pernah merayakan segalanya dengan pesta, saya pikir lebih baik uang yang akan kita buat pesta dikurangi dengan kemungkinan angpau yang akan kita dapatkan itu disumbangakan ke panti asuhan mungkin akan lebih  bermanfaat. (Maaf ini hanya opini saya. Memang ada cara lain untuk bersedekah dan itu sah-sah saja dan tergantung masing-masing orang).
Kalau begitu berapa jumlah ideal untuk sebuah ang pau?
Itu tergantung saku masing-masing. Saya berprinsip  bahwa seseorang yang akan mengadakan hajatan tentunya tidak mengharapkan keuntungan dari acaranya yang diadakan. Kalau ingin untung tentunya buka usaha, bukan?
Saat ingin membuat sebuah hajatan tentunya seseorang telah memperhitungkan anggaran yang akan dihabiskan dan sudah pasti mereka sudah mempersiapkannya dengan matang. Jadi anda jangan kuatirkan isi angpau anda.
Dalam kehidupan sosial juga, manusia pasti meninggal dunia. Saya yakin anda pasti setuju.
Dalam hal kerabat yang meninggal, saya menyarankan anda  memberikan dukungan nyata dengan memberikan sumbangan lebih besar lebih baik.
Kenapa?
Sesorang kalau meninggal tentu tidak tahu kapan akan datangnya ajal menjemput. Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa untuk segala keperluan prosesi penguburan butuh biaya yang tidak sedikit, apalagi etnis tertentu yang masih melaksanakan tradisi nenek moyang. Karena meninggal tidak bisa direncanakan berbeda halnya dengan pesta pernikahan atau sunatan atau pindah rumah, bisa jadi keluarga yang ditinggalkan tidak memiliki dana untuk segala macam prosesi duka. Disinilah kita sebagai mahluk sosial sebaiknya dan WAJIB melayat dan memberi dukungan baik dana maupun tenaga.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

(Salam Persahabatan P B8)

Minggu, 13 Maret 2011

MEREK SALAH KAPRAH

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari kegiatan tukar menukar suatu produk (barang dan jasa) yang memberi bisa manfaat lebih bagi orang yang bersangkutan. Dari zaman kuno yang mengenal sistem barter sampai zaman modern menggunakan alat pembayaran berupa uang tunai, bahkan saat ini kita hanya perlu menggunakan sebuah kartu (baik kartu kredit maupun kartu debit). Perkembangan  demi perkembangan  dicatat manusia sehingga kita mengenal apa yang disebut dengan ilmu Marketing (Pemasaran). Perlu diketahui bahwa marketing  beda dengan penjualan.
Ilmu marketing cakupannya sangat luas termasuk didalamnya  yang disebut dengan  Merek (Brand). Merek dapat diterjemahkan  sebagai pengenal suatu produk yang dihasilkan sebuah perusahaan, merek memegang peranan sangat penting terhadap kemajuan sebuah perusahaan. Umumnya perusahaan dengan merek yang sudah dikenal luas oleh masyarakat akan lebih unggul dalam memasarkan produknya, karena saat memutuskan pembelian suatu produk, konsumen lebih banyak dipengaruhi oleh psikologis sosial (walaupun masih banyak konsumen yang lebih kritis).
Untuk membuat sebuah merek dikenal tentunya bukan hal mudah, apalagi saat ini sudah bermunculan berbagai macam merek. Bahkan sejak produk Cina mulai merambah tanah air, muncul berbagai macam merek yang hampir  mirip dengan merek yang sudah terkenal di Indonesia, walaupun tidak banyak yang bisa bertahan.
Sadar atau tidak sadar, sebenarnya  sejak zaman dulu tim marketing perusahaan  dengan jeli sudah membentuk psikologis sosial masyarakat Indonesia terhadap sebuah merek.
Buktinya adalah banyak masyarakat di daerah pedalaman bahkan di kota besar yang menyebut sepeda motor  dengan kata HONDA tak perduli yang dikendarainya itu merek Yamaha atau Suzuki.  Mie instan selalu di sebut INDOMIE walaupun yang dimakan adalah Mie Sedap atau Mie ABC. Air mineral disebut AQUA padahal yang diminum adalah merek  Monalisa/ Mountair. Mungkin teman-teman tidak pernah menyangka bahwa  ODOL adalah merek pasta gigi yang sangat terkenal zaman dulu,  bahkan sampai saat ini pun masih banyak yang menyebut  kata ODOL padahal yang  dibelinya adalah Pepsodent atau Enzim, dan masih banyak lagi.
Hmmnn.....Dari semua yang saya sebutkan di atas saya namakan Merek Salah Kaprah.

(Semoga Bermanfaat, P B8).

Selasa, 05 Oktober 2010

INI KARYA TUHAN

          Saya  rasa anda semua tentu sepakat dengan saya bahwa manusia adalah hasil Karya TUHAN, kecuali anda punya pendapat lain saya tidak tahu dan tidak akan sependapat dengan Anda.
    
    Walaupun ada SEDIKIT perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lain namun, lebih BANYAK persamaan........


Manusia hanya berbeda warna kulit dan bahasa, selebihnya
Manusia adalah SAMA


Kalau ANDA sepakat, dengan saya
Mari kita tinggalkan DISKRIMINASI & ANARKIS terhadap SESAMA


DAMAI ITU MEMANG INDAH.......

Jumat, 17 September 2010

PERSAHABATAN

Kata PERSAHABATAN mengandung makna yang sangat sederhana namun memiliki efek yang sangat luas.
Bermakna, hubungan pertemanan antar manusia, minimal dua orang dan atau dengan jumlah orang yang tidak terbatas.
Persahabatan sebaiknya tIdak perlu memandang Suku, Agama, Ras atau Antar golongan yang sering kita kenal  dengan istilah SARA.
Apabila persahabatan di dasari ketulusan dan kejujuran maka banyak manfaat yang bisa kita bagikan dengan sahabat kita, begitu juga kita akan mendapat banyak manfaat, dengan demikian  niscaya hal positiflah yang akan kita peroleh dalam persahabatan.

Apa hal negatif yang bisa merusak persahabatan?
jawabannya adalah KECURANGAN.

Janganlah kita menjadi orang yang CURANG,

Salam PERSAHABATAN dari P B8.